Wisma Merapi Indah

Wisma Merapi Indah I terletak di Pedukuhan Kaliurang, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan merupakan vita atau tempat peritirahatan dan sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya karena mempunyai nilai penting bagi sejarah Bangsa Indonesia. Wisma Merapi Indah I pernah dipakai tempat istirahat Ir. Soekarno pada saat Konferensi Tiga Negara pada tanggal 3 Januari 1948 di Kaliurang. 

Kaliurang awalnya merupakan salah satu tanah apanage di Kasultanan Yogyakarta. Keterangan tersebut berdasarkan laporan Residen Yogyakarta (Gegevens Over Djokjakarta 1925 dan 1926) yang ditulis oleh L.F. Dingemans. Tanah apanage di kelurahan Pakem dikuasai oleh Pangeran Puger pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Pada tahun 1830-an berkembang perkebunan di daerah vorstenlanden. Perkebunan memerlukan lahan luas dan subur, berupa tanah apanage. Untuk perluasan perkebunan, terjadi perubahan dalam penggunaan tanah apanage dimana tanah tersebut disewa oleh perusahaan perkebunan dari para pemegang hak tanah (apanage holder). Penggunaan Tanah oponoge sebagai perkebunan juga terjadi di wilayah Pakem, yaitu berupa perkebunan Nile (indigo) yang diusahakan oleh Pangeran Adipati Mangkubumi yang saat itu menjadi apanage Pakem sekitar tahun 1880. Pada tahun 1912/1913 keluar peraturan yang menghapus tanah apanage di luar Yogyakarta. Tuan Versteeg merupakan yang tercatat terakhir sebagai pengelola tanah apanage Pakem.

Penggunaan wilayah Kaliurang Sebagai kawasan peristirahatan diawali pada tahun 1885 masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII, saat itu Pangeran Adipati Mangkubumi selaku penguasa apanage Pakem membangun sebuah tempat peristirahatan (pesanggrahan). Pada tahun 1919 Kaliurang ditetapkan sebagai kawasan hunian berdasarkan keputusan Residen Yogyakarta No. 927/ 42 tanggal 22 Januari 1919. Selanjutnya pada masa pemerintahan Residen Jonquiere, adanya kebijakan bahwa wilayah sebelah utara dan barat jalan Pakem-Kaliurang adalah wilayah Kesultanan yang bebas (vrijdomein). Pemerintah kolonial mengambil alih pengaplingan daerah Kaliurang dan memperoleh izin untuk melakukan pembangunan. Setelah adanya peningkatan kualitas jalan dan keberadaan pesanggrahan sultan, banyak pihak mulai mendirikan tempat peristirahatan dan terjadi peningkatan jumlah wisatawan. Kondisi tersebut terlihat dari pembangunan bungalo yang pada tahun 1925 hanya terdapatdua betas bungalo, satu tahun kemudian bertambah dua bungalo yang di antaranya milik Kesultanan Yogyakarta.Orang-orang Belanda merintis pembangunan rumah-rumah peristirahatan di Kaliurang tahun 1930an dengan membangun 30 bungalow pribadi. Selain bungalow, mereka juga membangun jaringan jalan semi permanen yang bisa dilewati berbagai kendaraan ke tempat-tempat menarik di kompleks Kaliurang Setelah kemerdekaan, bungalow dan rumah-rumah peristirahatan yang ditinggal oleh pemilik sebelumnya diambil alih oleh orang-orang pribumi. Bungalow-bungalow di Kaliurang dimiliki oleh para pejabat perkebunan di wilayah Yogyakarta khususnya pejabat perkebunan kopi dan tabu. Salah satu rumah peristirahatan tersebut adalah Wisma Merapi Indah I, milik Wahyu Biyantoro,S.H.keturunan H.Digdo Sudarmo (Pemilik NV. Baker). 

Dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa membicarakan Agresi Militer 1 yang dilancarkan Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. PerserikatanBangsa-Bangsa menyerukan agar Indonesia dan Belanda untuk melakukan gencatan senjata, dan secepatnya mencari penyelesaian masalah secara damai. Untuk itu kemudian dibentuk Komisi Tiga Negara atau disingkat KTN untuk berunding. Richard C. Kirby, Belgia dipilih oleh Belanda diwakili oleh Paul van Zeeland, dan Amerika Serikat Sebagai pihak netral diwakili oleh Dr. Frank Graham. 

Perundingan Khusus antara Republik Indonesia dengan Komisi Tiga Negara Diselenggarakan pada tanggal 13 Januari 19443 bertempat di Kaliurang. KTN merupakan sebuah komite yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB menjadi penengah konflik antara Indonesia serta Belanda. Komite ini dikenal sebagai Committee of Good Offices for Indonesia (Komite Jasa Baik Untuk Indonesia),Komisi Tiga Negara(KTN), karena beranggotakan tiga negara, yaitu Paul Van Zeeland (Belgia), Richard Kirby (Ausralia), dan Dr Frank Graham (USA). Republik Indonesia di wakili oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh Hatta, PM Syahrir dan Jendral Soedirman. Perundingan Kaliurang ini melahirkan Notulen Kaliurang. Isi Notulen Kaliurang yaitu menguasai dengan cara langsung penghentian tembak menembak sesuai dengan resolusi PBB, menjadi penengah konflik antara Indonesia serta Belanda, dan memasang patok-patok wilayah status quo yang dibantu oleh TNI. 

Perundingan yang menghasilkan Notulen Kaliurang diselenggarakan di Villa Kaliurang. Selama menghadiri perundingan tersebut, Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno beristirahat di bangunan yang sekarang disebut Wisma Merapi Indah I yang terletak di dekat Villa Kaliurang. Wisma Merapi Indah I dipakai beristirahat Ir. Soekarno sebagai salah satu wakil dari bangsa Indonesia, selama menghadiri perundingan. Wisma Merapi Indah I menjadi bagian dari sejarah karena pernah dipakai sebagai tempat peristirahatan Ir. Soekarno (Presiden Republik Indonesia) selama mengikuti perundingan. 

Bangunan Wisma Merapi Indah I merupakan villa atau rumah untuk peristirahatan, terdiri dari bangunan induk seluas 210 m', bangunan pavilion dan garasi seluas 108,6 rri. Bangunan induk terdiri dari tamu, tiga satu kamar tidur, dapur, gudang dan kamar mandi. Bangunan berdiri di atas pondasi dari susunan batu andesit dengan spesi atau campuran bahan pengikat berupa kapur, pasir dan semen. Lantai awalnya dari tegel abu-abu, namun ruang tamu lantainya diganti keramik. Dinding rumah terbuat dari susunan batu andesit yang diberi spesi, batu-batu andesit tersebut dicat warna hitam, sedangkan perekat semennya dicat warns putih. Separuh dinding rumah bagian dalam sebelah selatan dan dinding numb sebelah timur ditambah kayo dengan panil-panil dari kaca bening, yang dilengkapi dengan tiga pintu geser. Bangunan induk memiliki atap berbentuk piramid dengan penutup genteng dan terdapat hiasan kemuncak berbentuk bunga melati dari semen. Wisma Merapi Indah I merupakan bangunan dengan gaya arsitektur kolonial. Langgam Eropa tercermin dalam penggunaan banyak jendela panil kaca dengan geometri. Karakteristik arsitektur khas lereng Merapi tampak pada penggunaan batu vulkanik pada keseluruhan dinding luar bangunan. Penggunaan batu vulkanik ini sangat ekspresif karena penggunaan warna cat putih untuk perekat di sela antar batu untuk permukaan luar dinding sehingga tampil sangat mencolok atau kontras. 

Bangunan Wisma Merapi Indah I menunjukkan rancangan yang unik. Di wilayah Kaliurang terdapat banyak bangunan villa tetapi semuanya tidak ada yang sama baik bentuk eksterior maupun interiornya, meskipun dari segi lokasi berada dalam satu wilayah. Bangunan Wisma Merapi Indah I memiliki halaman seluas 2.600 m' dengan pagar keliling dengan terbuat dari susunan batu andesit dan tiang-tiang dad besi dan kawat berduri serta mempunyai dua pintu masuk halaman. 

Bangunan masih bertahan sesuai keasliannya, kecuali penutup atap yang semula dari sirap kayu besi telah diganti dengan genting tanah liat karena pertimbangan kemudahan untuk mendapatkan bahan dan melaksanakan perbaikan. Kondisi bangunan masih baik dan terawat. Berdasarkan riwayat perbaikan dahulunya keseluruhan atap pada bangunan pelengkap terbuat dari atap sirap, yaitu atap dengan bahan kayu besi atau Lain. Sekarang ini, keseluruhan atap telah diganti dengan atap berbahan genteng kodok.

 

Pintu Masuk Halaman
Pintu Masuk Halaman
Ruang Tamu
Ruang Tamu
Bangunan Induk Dilihat dari Sisi Selatan
Bangunan Induk Dilihat dari Sisi Selatan
Wisma merapi
Wisma merapi