Jembatan Gantung Bantar

  1. SEJARAH 

Jembatan Gantung Bantar ini merupakan jembatan gantung (suspension bridge)yang pertama kali dibangun di Hindia Belanda pada masa itu. Jembatan ini merupakan prasarana penghubung yang melintasi Sungai Progo untuk menghubungkan Kepanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat dan Kepanewon Sedayu, Kabupaten Bantul Di sebelah timur. 

Pembangunan Jembatan Telan Diusulkan pada tahun 1912 oleh Resident Djokjakarta Jacob Hendrik Liefrinck untuk didirikan di daerah Sentolo. Proposal awal mengajukan estimasi biaya pembangunan f156.000 Gulden kepada Burgerigke Openbare Werken (B.O.W.). Jembatan ini kemudian dirancang oleh Th. E. Veer, arsitek dari B.O.W. selama tahun 1915-1916 dengan biaya konstruksi mencapai 1150.000 Gulden. Pada tahap perencanaan ini, pihak Kesultanan Yogyakarta bersedia berkontribusi setengah dari biaya konstruksi yaitu f 125.000 Gulden. Hal ini mempertimbangkan bahwa pembangunan Jembatan Gantung Bantar memiliki peran penting untuk perkembangan ekonomi di wilayah Yogyakarta. 

Tahun 1920, terjadi perubahan anggaran konstruksi menjadi f415.900 Gulden. Melalui Keputusan Pemerintah Hindle Belanda No. 32 tanggal 1 Mei 1920 pembiayaan ditanggung pemerintah dengan besar kontribusi dari Kesultanan Yogyakarta tetap (125.000 Gulden. Pada tahun 1920 itu pula pekerjaan pembangunan Jembatan Gantung Bantar dimulai, namun kemudian berhenti pada tahun 1921 karena kondisi kesulitan keuangan negara pada waktu itu. 

Pada tahun 1925 pekerjaan pembangunan jembatan dilanjutkan kembali. Pekerjaan substruktur (konstruksifondasi dan pilar jembatan) ditenderkan kepada Nederlendsche Aonnemingsmootschoppij (N.E.D.A.M.) yang diselesaikan pada Oktober 1927 Dengan Biaya 229.000 Gulden. Sementara konstruksi superstruktur dikerjakan oleh pabrik Werkspoor N.V. di Utrecht dengan biaya (221.000 Gulden. Material baja struktur jembatan diangkut dengan kapal dan tiba di Pelabuhan Cilacap pada bulan April 1928, kemudian diangkut dengan Kereta Api hingga Stasiun Sentolo dan Sedayu. Perakitan konstruksi superstruktur dilakukan pada Agustus 1928 hingga akhirnya pembangunan Jembatan Banter selesai dan diresmikan tanggal 17 Juni 1929. Seluruh proses pembangunan dikepalai oleh insinyurJ.A. Verhoogdengan pengawasan langsung dari B.O.W 

Pada saat peresmiannya, jembatan ini diberi nama: Gouverneur Jasper-brug. Nama tersebut diambil dari Johan Ernst Jasper, Gubernur Yogyakarta yang pertama pada masa jabatan 1928-1929. Sebelumnya J.E. Jasper menjabat Resident di Yogyakarta sejak tahun 1926 (Mulai tanggal 19 Desember 1927 status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi). Pada masa Perang Kemerdekaan (1948-1949) Jembatan Gantung Bantar sangat erat kaitannya dengan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Setelah peristiwa Agresi Militer Belanda 11 (19 Desember 1948), Jembatan Gantung Bantar dikuasai pasukan Belanda dan dijadikan pos militer tentara Belanda sejak 27 Desember 1948. 

Kolonel Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III MBKD (Markas Besar Komando Djawa) Jawa Tengah bagian Barat dan Yogyakarta kala itu membentuk beberapa Wehrkreise(Daerah Perlawanan). Untuk daerah Yogyakarta berada di bawah komando pasukan Wehrkreise III yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto. Selanjutnya Letkol Soeharto membagi wilayah komandonya ke dalam beberapa Sub-Wehrkreise. Salah satu pasukkan Sub-Wehrkreise yang dibentuk yaitu pasukan Sub-Wehrkreise 106 yang berada di Kulon Progo dengan komandan Letnan Kolonel Soedarto. Pasukan ini merupakan pasukan TNI yang pada awalnya dibentuk sebagai bagian dari penerapan Operasi Siasat Nomor 1, yaitu “Siasat Bumi Hangus” (melakukan sabotase/penghancuran fasilitas umum untuk menghambat mobilisasi musuh). Misi pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kulon Progo adalah menyerang pos militer ini sekaligus merusak/ menghancurkan Jembatan Gantung Bantar. 

Pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, Pasukan Sub-Wehrkreise 106 Kuion Progo berhasil melakukan penekanan dan menahan pasukan Belanda yang berada di pos Jembatan Gantung Bantar. Kondisi ini mengakibatkan pasukan tentara Belanda tidak dapat bergerak untuk memberikan bantuan kepada pasukan Belanda yang sedang diserang oleh pasukan Wehrkreise Ill di kota Yogyakarta. Peristiwa tertahannya pasukan tentara Belanda di Jembatan Gantung Bantar dalam pertempuran tersebut memberikan dampak besar terhadap keberhasilan Serangan Umum 1 Maretdi Kota Yogyakarta. 

Sebagai penanda nilai pentingnya Jembatan Gantung Bantar bagi perjuangan untuk mempertahankan Kedaulatan Negara Republik Indonesia, pada tanggal 1 Maret 1995 Ketua Umum Paguyuban Wehrkreise (Daerah Perlawanan) III Yogyakarta, Jenderal TNI (Purn) Soesilo Soedarman meresmikan Jembatan Bantar Lama (Jembatan Gantung Bantar),sebagai"Monumen Perjuangan" 

  1. KONSTRUKSI

Jembatan Gantung Bantar merupakan jembatan gantung rangka baja sepanjang 176 m dengan lebar 6 m yang ditopang dua tower (pylon) ganda yang bertumpu pada pilar ganda setinggi 13 m dari permukaan normal airsungai. Konstruksi Jembatan Gantung Bantar ini merupakan jembatan gantung yang pertama kali dibangun di Hindia Belanda pada masa itu. Sebagai tipe jembatan gantung (suspension bridge) Jembatan Gantung Bantar menerapkan sistem jembatan dimana seluruh kerangka jembatan (framework) digantungkan pada suatu kabel baja utama (wire rope) dengan perantara kabel baja penggantung (hanger). Kabel utama jembatan bertumpu pada dua tower ganda, dan kedua tower tersebut bertumpu pada pilar ganda untuk meneruskan beban-beban yang diterima jembatan dan selanjutnya diteruskan ke fondasi. Jembatan ini juga dilengkapi dengan cakram seperempat lingkaran yang didukung oleh konstruksi sendi dan roll yang berfungsi sebagai tumpuan kabel utama pada ujung-ujung jembatan. Selanjutnya ujung kabel utama masuk kedalam tanah dengan dilengkapi anchor sebagai pemberat. Hal tersebut berfungsi untuk meneruskan beban dan getaran yang diterima oleh jembatan. Jenis lantai jembatan berupa pa pan kayu di atas gelagar (girder) baja, dan di atas lantai papan jembatan diberi lapisan aspal beton sebagai surface course. 

Jembatan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian bentang tengah sepanjang 80 m yang ditopang oleh tower ganda dan bertumpu pada pilar ganda serta bentang samping masing-masing panjang 48 m yang ditopang oleh kepala jembatan (abutment). Di atas pilar ganda terdapat tower setinggi 10,8 m sebagai tempat kedudukan kabel baja utama (wire rope). Jembatan Gantung Bantar Juga dilengkapi dengan pagar setebal ±30 cm. Kabel utama yang merupakan konstruksi utama pada jembatan berjumlah 3 di kedua sisinya, dengan diameter masing-masing kabel 1,5 inci (3,81 cm). Untuk mengunci ujung-ujung kabel baja tersebut digunakan cakram seperempat lingkaran untuk meneruskan kabel kedalam konstruksi anchorage. Pada masa kemudian, untuk menambah kemampuan menahan kapasitas beban jembatan, ditambah 3 kabel utama dengan bentuk dan diameter yang sama sehingga di kedua sisi jembatan terdapat 6 kabel utama. Tambahan 3 kabel gantung tersebut kunci dengan tambahan cakram seperempat lingkaran di belakang masing-masing keempat cakram yang telah ada sebelumnya. Keempat cakram tambahan berfungsi sama untuk meneruskan kabel baja kedalam konstruksi anchorage.*** 

 

Kabel Baja Utama
Kabel Baja Utama
Prasasti Monumen Perjuangan oleh Paguyuban Wehrkreise
Prasasti Monumen Perjuangan oleh Paguyuban Wehrkreise
Jembatan Gantung
Jembatan Gantung