Garin Nugroho Riyanto

Siapa yang tidak mengenal Garin? Dia bukan hanya seorang sutradara film beken, tetapi juga penggerak berbagai aktivitas budaya yang sangat penting di Indonesia. Garin Nugroho Riyanto, atau yang lebih dikenal dengan Garin Nugroho dilahirkan pada 6 Juni 1961, di Yogyakarta, merupakan salah satu sutradara, penulis skenario, produser film, inisiator dan dramaturg berbagai pertunjukan panggung yang populer. Nama Garin Nugroho mulai dikenal luas setelah film berjudul Cinta dalam Sepotong Roti (1990). Lalu, film keduanya, Surat Untuk Bidadari (1992) membawa namanya ke panggung film internasional. Garin Nugroho menyelesaikan pendidikan bidang perfilman di Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 1985. Selain belajar film, ia juga menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, selesai pada 1991. Dalam perfilman Indonesia, Garin Nugroho memulai kariernya sebagai kritikus film dan pembuat film dokumenter. la telah menyelesaikan sedikitnya dua puluh lima judul film (dokumenter, film pendek, dan film panjang). Pada Perayaan 250 Tahun Mozart, Garin terpilih menjadi salah satu dari enam 'innovative directors' dunia untuk membuat film, yang kemudian melahirkan film fenomenal Opera Jawa (2006). Di akhir 2006, Garin menginisiasi lahirnya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang merupakan sebuah ajang festival film tahunan sebagai pelepas dahaga para pecinta film untuk bisa menonton film-film terbaik yang ada di Asia. Di bidang musik, is sempat membuat video klip January Christy, Titi DJ, Krakatau (grup musik), Katon Bagaskara, Paquita Widjaya, Edo Kondologit, dan Gong 2000. Salah satu karya video klipnya, Negeri di Atas Awan (dinyanyikan oleh Katon Bagaskara), berhasil mendapat Trofi Visia pada final Video Musik Indonesia Periode111994/1995 . 

Film Garin selalu menarik perhatian baik dari masyarakat bangsanya sendiri maupun masyarakat perfilman mancanegara. Penghargaan seperti Asia Pasific Screen Awards dan Venice Independent Film Critic sudah seperti langganan baginya untuk membawa pulang trofi atas film-film karyanya. Film KucumbuTubuh Indahku (2019) berhasil membawa pulang 8 piala dari 12 nominasi Festival Film Indonesia (FFI), salah satu diantara lainnya adalah piala penghargaan untuk Film Terbaik dan Skenario Asli Terbaik. Film tersebut juga berhasil meraih label 'cultural diversity award' pada Asia Pasific Screen Awards. Dalam film-filmnya, Garin menaruh banyak aksen budaya sebagai narasi seni visual. Cara Garin mengolah budaya lokal sebagai aksen penting dalam film-filmnya, patut diacungi jempol. Alhasil, sutradara kelahiran Yogyakarta ini memiliki gaya dan kekhasan tersendiri. Kita bisa melacaknya melalui sejumlah karya filmnya antara lain, Bulan Tertusuk llalang (1994), Daun di Atas Bantal! (1997), Puisi Tak Terkuburkan (1999), Opera Jawa (2006), Soegija (2012), Setan Jawa (2017), dan puluhan karya lainnya. 

Selain sebagai sineas, Garin juga sangat dikenal sebagai seniman, penulis, dan sutradara panggung berkelas yang berupaya mengangkat nama balk Indonesia. Tulisan-tulisannya di surat kabar banyak memberi sumbangan pemikiran bagi kemajuan kreativitas seniman dan kebudayaan Indonesia. Kecintaannya pada khasanah budaya Indonesia membuatnya menaruh perhatian besar dengan membuat platform Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia untuk mengasah lebih lanjut kreativitas para pelaku seni pertunjukan dan juga memperkuat sistem pengelolaan serta kolaborasi dalam seni pertunjukan. Baginya tidak ada perbedaan dalam menuangkan karya balk dalam film atau teater, keduanya memiliki kesulitan yang sama namun dengan tantangan spesifik tersendiri. Keduanya menjadi media andalan agar budaya Indonesia terus dikenang dan disaksikan dunia, dirinya berharap banyak agar karyanya dicintai dari segala kalangan termasuk anak-anak millenial. Garin menginginkan sebuah kesederhanaan dalam pertunjukan, namun berkelas dan berkesan dalam jiwa penontonnya. Sebuah karya yang tak hanya dapat dilihat namun dapat membuat mata terbelalak, bahwa Indonesia memang kaya. "Industri kreatif harus memperluas lagi pembangunan fasilitas-fasilitas teknologi sehingga sama dengan panggung level dunia, expert-expert dalam hal ini harus dimiliki Indonesia" tutur sutradara berprestasi itu.*** 

Kekuasaan Hiburan
Kekuasaan Hiburan
hasil karya seni
hasil karya seni
Garin Nugroho Riyanto
Garin Nugroho Riyanto