SMP N 1 Berbah secara administratif terletak di Dusun Teguhan, Desa Kalitirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, DIY. Bangunan SMPN 1 Berbah ini merupakan sebuah komplek bangunan yang terdiri dari beberapa bangunan untuk sarana prasarana sekolah, dan menempati areal seluas 5286,318 M2. Sementara bangunan yang dinyatakan sebagai bangunan Cagar Budaya yaitu bangunan utama (bangunan Induk) yang saat ini digunakan untuk ruang pengelola sekolah. Bangunan utama berdiri di atas tanah berukuran luas 409,546 m2. Secara keseluruhan, kompleks bangunan SMP N 1 Berbah ini dalam kondisi balk dan terawat.
Bangunan Utama SMP N 1 Berbah menghadap ke selatan, dengan halaman yang cukup luas. Denah bangunan keseluruhan berbentuk persegi panjang dengan penonjolan tambahan denah berbentuk segi enam di bagian depan. Atap bangunan ditutup dengan genteng press dan bubungan dari tanah liat. Pada bangunan berdenah segi enam di bagian atasnya terdapat hiasan kemuncak. Bangunan berdenah segi enam ini kemudian disambung dengan bangunan berdenah persegi panjang dengan pembagian ruang yang simetris dan beratap bentuk limasan. Pada langit-langit ruangan ditutup dengan plafond dari lembaran seng baja bermotif datar gelombang. Bangunan ini berdiri di atas pondasi dengan model pondasi ekspose yang tersusun dari batu kali gundul yang diplester dengan semen di sekeliling batu. Pondasi ini berdiri pada ketinggian 72 cm di atas tanah dan dilengkapi dengan dua tangga masuk di sebelah timur dan barat. Lantai bangunan dulunya berupa tegel warna abu-abu berukuruan 20 cm x 20 cm, namun pada saat ini semua sudah ditutup dengan tegel keramik. Hal menarik mengenai arsitektur bangunan Utama SMPN 1 Berbah ini mempunyai ciri khas bergaya bangunan Indis dengan bentuk jendela dan pintu dari kayu yang berukuran besar dan tinggi. Ruang Tamu berada pada bagian terdepan, menempati ruang yang berdenah segi enam dengan jendela besar yang hampir memenuhi dinding bangunan. Bangunan utama terbagi dalam tujuh ruangan yang saat ini digunakan untuk fasilitas ruang Kepala Sekolah dan ruang Guru.
Bangunan Utama SMPN 1 Berbah ini terkait erat dengan sejarah perkembangan pabrik gula di Yogyakarta. Dimulai pada tahun 1860 di Yogyakarta berdiri pabrik gula dengan menggunakan tenaga air dan kemudian disusul berdirinya pabrik-pabrik gula lainnya dan salah satunya dengan menggunakan tenaga uap. Pada masa kejayaan industri gula, di Yogyakarta pernah berdiri sebanyak 17 buah pabrik gula yaitu Pabrik Gula (PG) Gondang Lipuro (Ganjuran), PG Padhokan, PG Gesikan, PG Jebukan (Bantul), PG Barongan, PG Pundong, PG Kedhaton Pleret, PG Rewulu, PG Demakijo, PG Cebongan, PG Beran, PG Medari, PG Sendangpitu, PG Sewu Galur, PG Randugunting, PG Wonocatur, dan pabrik gula Tanjung Tirto, di Berbah Sleman.
Pabrik Gula Tanjung Tirto didirikan oleh Internationale Crediet en Handelsvereeniging "Rotterdam" (Internatio) pada tahun 1874. Internatio merupakan perusahaan perbankan yang berdiri pada tahun 1863 dan berkedudukan di Rotterdam, Belanda. Selain mendirikan bangunan Pabrik Gula Tanjung Tirto, juga didirikan bangunan fasilitas untuk pengelola dan para karyawannya. Kantor Administratur didirikan pada tahun 1923, perumahan Ziender dan pegawai pribumi didirikan pada tahun 1923-1924, rumah sa kit pembantu (hulpziekenhuizen) pada tahun 1922 dan sekolah pertukangan (Ambachischool) yang dibuka pada tanggal 15 Mei 1928 yang ditandai dengan penanaman sebuah pohon beringin oleh Sultan Hangkubuwono VIII dan disaksikan oleh Paku Alam VII dan Residen Yogyakarta. Masa kejayaan pabrik gula di Yogyakarta Charboume Agreement pada tahun 1931 yang mewajibkan Pemerintah Belanda mengurangi jumlah produksi gula, maka sembilan pabrik gula yang ada di wilayah Yogyakarta mengalami gulung tikar dan harus ditutup. Delapan pabrik gula yang masih bertahan melewati masa krisis malaisse ini adalah PG Kedhaton Pleret, PG Medari, PG Cebongan, PG Beran, PG Gesikan, PG Gondang Lipuro, PG Padokan, dan PG Tanjung Tirto, di Berbah, Sleman. Pada masa pendudukan Jepang, sebagian besar pabrik gula ditutup dan lahannya dialihfungsikan untuk menanam padi dan palawija untuk keperluan tentara Jepang. Keadaan ini semakin parah setelah Indonesia merdeka. Semua pabrikgula dibumihanguskan para pejuang Republik Indonesia dan TNI agar tidak digunakan oleh tentara militer Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Namun demikian masih ada bangunan-bangunan fasilitas pabrik Gula yang masih terselamatkan, termasuk rumah dinas administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto, Berbah, Sleman.
Bangunan Utama SMP N 1 Berbah ini dulunya merupakan rumah tinggal atau rumah dinas Administratuur Pabrik Gula Tanjung Tirto yang dibangun pada tahun 1923. Pada jaman pendudukan Jepang bangunan ini digunakan sebagai rumah dinas mandor tebu. Setelah Indonesia merdeka dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sempat kosong dan terbengkalai. Seiring dengan adanya Serangan Umum 1 Maret 1949 bangunan ini dikuasai oleh pasukan TNI dan tidak ada yang menempati hingga tahun 1951. Selanjutnya sejak tahun 1951 bangunan ini dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah. Tahun 1951 - 1952 bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Teknik Negeri (STN) Kalasan pindahan dari STN yang berada di Kalasan, dan dipergunakan sampai dengan tahun 1969. Selanjutnya dari tahun 1969 sampai saat ini rumah Administratuur tersebut digunakan sebagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Berbah. Menarik perhatian cerita yang disampaikan oleh Plt. Kepala Sekolah SMP N 1 Berbah bahwa beberapa tahun lalu cucu administratuur penghuni rumah itu datang berkunjung ke Berbah untuk napak tilas tempat-tempat yang pernah dihuni atau disinggahi oleh kakek moyangnya."**