Ahmad Noor Arief dan Industri Kreatif Dagadu

Banyak orang Indonesia mengenal kaos DAGADU. Kaos dengan nafas plesetan logika, makna, dan kata-kata serta gojekan ala Jogja sepanjang lebih dari 2 dekade ini telah menjadi identitas lokal yang menasional. Ribuan desain atau jutaan item kaos telah berhasil dipasarkan. Namun mungkin belum banyak yang tahu siapa pemeran penting di baliknya. Jika dilacak seperti apa dan bagaimana cara menjalankan hingga bisnis kaos ala wong Jogja ini sukses, nama Ahmad Noor Arief perlu disebutkan. Tentu tanpa melupakan peran kawan-kawan seperjuangannya, Arief bersama Dagadu telah menghiasi relung ingatan remaja dekade 90-an hingga kini. 

Arief asli orang Jogja. Sampai kini hidupnya dilalui di kotanya sendiri. Lelaki kelahiran Kotagede, 8 Januari 1969 ini menempuh pendidikan menengah di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Lalu berkuliah di Arsitektur UGM dari 1987-1995. Sempat selama 2 semester is belajar di Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta pada tahun yang sama ketika masuk ke Arsitektur. Pendidikannya inilah yang turut mempengaruhi hobi dan pekerjaannya mengeksplorasi dunia industri kreatif. 

Pada saat dimulai tahun 1994, Dagadu masih menjalani usaha bersifat non-formal, kumpul-kumpul dan bekerja bareng. Dagadu lahir dari sekumpulan 25 mahasiswa Arsitektur UGM untuk merespons ajakan dosen mereka, Ir. Ra. Wondoamiseno untuk mengisi salah satu booth di Malioboro Mall. Wondoamiseno sendiri adalah arsitek yang turut mendesain mai tersebut, selain Sportorium UNY dan Toko Buku Gramedia Yogyakarta.Pada awalnya mereka bantingan d a na semampunya, hingga akhirnya setelah 2 tahun berjalan, nama Dagadu terkenal. Baru pada 1996 Dagadu menjadi usaha perseroan terbatas. 

Peran penting Arief telah mulai sejak awal. Setelah menjadi perseroan terbatas, ia ditunjuk sebagai Direktur Utama pada 1996-2000. Pada masa selanjutnya pada 2000-2005 ia menjadi komisaris. Namun pada 2005 hingga 2019 ditunjuk menjadi direktur utama lagi. Setelah itu ia kembali menjadi komisaris (bersama 2 orang lainnya) sampai saat ini. Di masa kini Dagadu dikelola secara profesional, alias bukan oleh para pendiri sebelumnya. Melalui semua jabatan ini, Arief memahami dan menjalankan visi usaha berbasis budaya seni secara menarik dan konsisten sepanjang 28 tahun. Dagadu telah menjadi pelopor bidang usaha ekonomi kreatif yang patut mendapatkan penghargaan. 

Arief bersama 20an rekanan awal di Dagadu tak pernah lepas dari peminatan yang sama. Mereka mengejawantah dinamika antara yang masa lalu dan yang masa kini. Bidang kepariwisataan, budaya tradisi, perkotaan dan apresiasi desain grafis (seni) menjadi simpu I penting saat melihat peran Arief dan kawan-kawan. Pertemuannya dengan sejumlah seniman-budayawan pada awal Dagadu berdiri, menjadi stimulan yang penting. Berjumpa dengan desainer grafis kawakan semisal Ong Harry Wahyu, Buldanul Khuri maupun grafikus/kritikus seni Suwarno Wisetrotomo adalah momentum untuk slap memberi aroma baru dalam bidang desain. Apalagi pada masa kuliah, Arief sendiri telah bergabung di Penerbit Bentang Sebagai bagian dari divisi Graphic Design. 

"Cinderamata" menjadi kata kunci mereka. Kata ini menjadi output kala melihat Yogyakarta. Peran mereka dalam mengusung keterpaduan antara nilai budaya, sejarah, filosofi, hingga ekonomi perk] dilihat sebagai input yang luar biasa. "Bangunan" bernama budaya atau kearifan lokal menjadi tulang punggung untuk bergerak dan menggerakkan, untuk bersikap romantis, sekaligus kritis.Mereka mengkolaborasikan antara seni dan pasar secara unik. Karenanya, mereka punya semboyan pemasaran yang menarik, "Keren di mata konsumen. Bagus di Mata kritikus". 

Menurut Arief, kaos-kaos Dagadu memang menjadi benda kenangan yang tidak hanya berfungsi sebagai kaos semata. la menjadi alternatif bagi usaha kaos yang sebelumnya hadir atau yang kini gencar mengekspansi masyarakat. Berbeda dengan cinderamata lain yang sudah ada, citra non-pabrikan, estetika pada tema sepele, gaya main-main menjadikan Dagadu tampil "sendiri". Artefak budaya, bidang studi bahasa, gaya hidup, cam pandang khas masyarakat Yogya dicatat atau didokumentasi sekaligus menjadi hiburan bersama. Karena berbagai terobosan pemasarannya, tak salah bila Dagadu yang kini menempati Yogyatourium di Jalan Gedongkuning mendapatkan penghargaan dari Majalah Marketing untuk kategori The Best In Social Marketing dan The Best in Experiential Marketing pada 23 November 2010 lalu.

Upaya ini jelas meramu banyak tujuan. Salah satunya adalah sebagai upaya untuk mengunggulkan kesan bahwa produk berupa kaos tidak selamanya menjadi benda fungsional tak bermakna. Kaos Dagadu, menurut Arief, bukan semata wahana turisme (bagi tamu kota), tetapi juga tombo kangen bagi banyak orang yang telah merasakan hidup atau hanya semalam di Jogja (termasuk warga kota). Apalagi bagi para pelajar atau mahasiswa yang pernah melalui pendidikan di Kota Pelajar ini, jelas memori tentang kaos ini begitu melekat. Tak salah bila semboyan "Selalu dekat dengan almamater Djogja" turut menjadikan kaos sebagai medium identitas lokal yang kuat. 

Kisah penting lain adalah ketika menghadapi persoalan pemalsuan. Sejak 2 tahun pertama, Dagadu telah dihinggapi persoalan ini. Mencuatnya nama Dagadu membuat Jogja dibanjiri oleh produk tiruannya. Jogja mengalami "ledakan" kaos Dagadu palsu di pertengahan 90an hingga dekade 2000an. Bisa dibilang ini merupakan kisah pedih sektor ekonomi kreatif kala itu. "Inilah salah satu hal yang juga turut memicu untuk segera melegalkan usaha kami adalah menjadi PT. Aseli Dagadu Djokdja," kata Arief. Namun perkara pemalsuan, Arief punya alasan dan cara tersendiri. Ini mungkin bisa menjadi pelajaran penting bagi para kreator hari ini. 

Dengan terbentuknya usaha menjadi perseroan terbatas, sesungguhnya cara dan jalur hukum ditempuh. Namun, menurut Dewan Penasihat Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (adgi) 2008 ini, "Saking masifnya pemalsuan kala itu, kami kesulitan untuk melakukan tuntutan, karena itu lebih balk menempuh jalur persuasi terlebih dahulu." Dagadu akhirnya melakukan kampanye kreatif dengan membuat kaos, salah satu diantaranya bertuliskan "Malu Bertanya, Sesat di Jalan" maupun langkah-langkah kreatif lainnya. Pendekatan persuasi ditempuh sejak 1998-2013. 

Belum cukup rupanya hal itu dilakukan. Waktu terus berjalan, seiring dengan munculnya trend ekonomi kreatif dan perhatian terhadap Hak Kekayaan Intelektual, Dagadu sering dijadikan contoh benchmark bagi para pelaku kreatif kala itu. Hal ini juga turut membantu menetralisir pemalsuan. Selebihnya adalah bahwa di kalangan kreator Indonesia memerlukan success story, maka Dagadu tetap melakukan langkah hukum untuk mengatasinya. Mengenai momentum ini, Dagadu secara kreatif melakukan "tradisi baru", yakni dengan memunculkan ide Peran individu Arief sendiri penting untuk dicatat. Salah satu pengurus "Living Museum Budaya Kotagede" (2003-2006) ini tidak semata menjalankan diri sebagai pengusaha untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Bisa jadi bila itu dilakukan, kecaman tentang eksploitasi budaya akan mengarah padanya. Untuk itu, Arief dengan patuh dan teguh menjadikan kotanya sebagai inspirasi, tanpa meninggalkan sikap kritis dan kontekstual. Ketua Umum Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) ca bang Yogyakarta pada 2015 ini telah mendedikasikan dirinya tidak semata hanya berperan untuk dunia bisnis, tetapi juga mengalirkan nilai dan napas budaya dalam setiap gerak dan usahanya. 

Pemikiran ini diakumulasi bahwa sejatinya hidup penuh problematika. Arief menyadari bahwa dalam menjalankan bisnis tidak bisa meninggalkan apa yang terjadi di Yogyakarta. "Problem di Jogja makin banyak, makanya kini makin sulit mencari tema mana yang dipiiih untuk dijadikan desain kaos," ungkapnya. 

la berterimakasih pada banyak rekan yang selama ini bekerja di bidangnya masing-masing. la juga terkadang mengalami kesulitan dalam mengambil sikap kala terjadi hat-hat negatif di kotanya sendiri. Untuk itulah is sering melakukan diskusi dengan banyak pihak. Sebab bagi anggota Dewan Kebudayaan DIY (2020-2022) ini diperlukan sikap terus-menerus menggemakan konsep untuk merajut kebersamaan guna mengatasi masalah di masyarakat. 

"Saya kira memperbanyak peluang kolaborasi untuk mengimbangi kompetisi itu jauh lebih berguna. Jika ada peristiwa klitih misalnya, itu penanda bahwa kita masih bersemangat untuk saling mengalahkan, bukan maju bersama-sama,"demikian pungkasnya.Jadi bukan hal yang mengherankan bila dari bisnis kaos Dagadu-nya, Arief bergerak mengajak kita untuk respek pada banyak hal.*** 

 

Foto bersama pengunjung
Foto bersama pengunjung
Ketika sedang mengisi acara
Ketika sedang mengisi acara
Pertemuan bersama Rekan
Pertemuan bersama Rekan
Foto Bersama Erick Tohir
Foto Bersama Erick Tohir
Ahmad Noor
Ahmad Noor